Senin, 20 Juni 2011

Jangan Panggil (mereka) Gila

Magelang, DetakNews. Siang itu kami menyanyikan “Sewu Kutho”, sebuah langgam campursari yang tenar dinyanyikan Didi Kempot. Dengan suara cengkok khas orang Jawa, dia* mampu mengikuti iringan drum, gitar, bass, dan keyboard. Suara cempreng saya mengikuti suara beratnya. Sesaat kami bertukar pandangan, dia membenarkan ucapan saya yang salah. Duet siang hari yang aduhai.

Sekilas, tidak ada yang membedakan dia dengan laki-laki paruh baya lainnya. Kecuali seragam bertuliskan sebuah nama rumah sakit jiwa dan pandangan mata yang kemudian kosong setelah dentum drum di akhir lagu. Begitupun dengan pengiring lagu yang lain. Teman laki-laki saya sampai berucap, “Saya tidak bisa memainkan melodi sebagus dia,” sambil menunjuk si pemain melodi. Siapa mengira sebelumnya, jika mereka mampu melakukannya?

Benar. Mereka adalah rehabilitan di sebuah rumah sakit jiwa. Dalam pandangan kita, sebagai orang awam, mereka adalah orang gila, tidak waras, dan tidak begitu berguna. Setidaknya itu yang ada di pikiran saya sebelumnya. Selain gambaran umum lain seperti kotor, bau, berantakan, ngamukan, tidak berpakaian, dan hal-hal berbahaya lainnya. Ketika mulai berkenalan, berbicara, bahkan bercanda dengan mereka, justu munculah pikiran tentang, “Seperti apa sebenarnya orang gila itu?”. Karena pada dasarnya, ketika berbicara dengan mereka, mereka bisa menjadi biasa saja. Jika saya bertemu mereka tidak di rumah sakit jiwa, mungkin saya akan mengira mereka sehat-sehat saja. Mereka bercerita seperti kita pada umumnya.

Positif-negatif

Gangguan jiwa merupakan kondisi ketika kita (manusia) tidak lagi mampu mengontrol diri kita. Setidaknya begitulah gambaran singkat yang dijelaskan oleh Bu Yanti, psikolog di RSJ Prof. Dr. Soerojo, Magelang. Gejala gangguan jiwa sendiri ada macam-macam. Ketika seseorang bisa divonis mengidap gangguan jiwa, setidaknya dibagi menjadi dua gejala, yakni gejala positif dan gejala negatif.

Gejala positif biasanya terkait dengan seseorang yang terkena gangguan jiwa berat, seperti waham, halusinasi, depresi, tingkah laku yang kacau atau bisar, ataupun gangguna di dalam proses pikir –komunikasi tak terarah. Sementara gejala negatif seperti halnya orang yang apatis, anti-dunia, tidak bisa merasakan kegembiraan dan kesedihan, seringkali mimik mukanya tidak lagi ekspresif, serta tidak mau beraktifitas dan berinteraksi dengan orang lain.

Masih menurut Bu Yanti, penanganan bagi para rehabilitan pun bermacam dan bertahap. Mulai dari pengobatan dengan obat-obat yang disesuaikan dengan kondisi kejiwaan rehabilitan (sekali lagi, kondisi kejiwaan rehabilitan berbeda-beda, ada semacam tingkatan ilmiah yang belum saya pahami sepenuhnya). Ataupun terapi sosialisasi untuk menyiapkan rehabilitan kembali bersosialisasi nantinya. Karena sesungguhnya, yang tersulit bagi rehabilitan nantinya adalah untuk kembali diterima oleh lingkungan sosialnya.

Rumah (sakit)

Itulah mengapa rehabilitan yang seringkali sudah dinyatakan “sembuh” kembali ng-blank (kambuh). Karena ketika mereka kembali ke lingkungan masyarakat, penerimaan masyarakat seringkali tidak baik. Embel-embel “gila” menjadi identitas baru yang berasosiasi negatif dan adanya resistensi untuk menerima mereka kembali sebagai anggota masyarakat yang sama. Tak heran, karena adanya tekanan dan sambutan kurang baik tersebut, maka mantan rehabilitan kembali ng-blank.

Penerimaan positif dari masyarakat dan kitalah yang dibutuhkan oleh seorang mantan rehabilitan untuk perlahan sembuh. Untuk itu, salah satu bagian penyembuhan yang ada adalah dengan bermacam kegiatan yang nantinya dapat bermanfaat bagi rehabilitan. Seperti keterampilan menjahit, menyulam, ataupun kegiatan bertani dan berkebun. Kegiatan keseharian selayaknya kehidupan masyarakat pada umumnya juga menjadi kegiatan sehari-hari rehabilitan. Sekali lagi, sekilas, mereka seperti tetangga kita pada umumnya.

Dengan cekatan beberapa laki-laki mulai berlari mengejar bola. Dengan latar belakang Gunung Sumbing dan udara pagi yang hangat teriakan gol berkali di serukan. Satu dua suster pendamping menyemangati. Sebagian yang lain melihat dari kejauhan. Mata mereka hidup, tak lagi sayu. Di kavling lain, mereka membersihkan halaman, memangkas rumput, atau sekedar menjemur handuk. Di bagian selasar sebelahnya, kelompok lain mulai berjalan-jalan pagi.

Setelah kegiatan pagi seperti mandi dan sarapan, mereka mulai melakukan kegiatan rekreasi. Sekelompok laki-laki terlihat berbagi batang rokok. Kelompok yang lain menyiangi sayuran di kebun atau beberapa ibu-ibu mulai menyiapkan alat sulamnya. Di antara puluhan bangunan tinggi dan selasar-selasar panjang serta halaman luas yang menghubungkan kavling satu ke kavling lainnya, serasa di perumahan mewah khas Belanda. Itulah rumah mereka sampai beberapa waktu mendatang hingga dinyatakan boleh pulang dan dijemput keluarga masing-masing. Para rehabilitan kebanyakan mereka yang berusia lebih dari 25 tahun. Banyak pula yang berusia senja. Apa yang menyebabkan mereka tak jua pulang?  Siapkah kita mereka berada diantara kita? Jangan lagi panggil mereka gila… (Syamrotun Fuadiyah/D0207026)
*Penulis tidak bisa menuliskan nama-nama rehabilitan.

0 komentar:

Poskan Komentar