Kamis, 09 Juni 2011

Istana Di Kota Solo

Keraton Kasunanan Surakarta - sumber : pasarrekrasi.com
Jika Inggris mempunya istana megah bernama Buckingham Palace, Belanda punya Koninkrijk der Nederlanden, dan Perancis memiliki Rayaume de France, maka Kota Solo pun memiliki istananya sendiri. Keraton Kasunanan, merupakan istana yang dimiliki oleh masyarakat Solo yang memiliki sejarah yang bernuansa magis religius yang mampu menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. 

Keraton Kasunan Solo terlindung oleh tembok-tembok yang berdiri kokoh di areal Keraton. Hampir sama dengan Keraton di Yogyakarta, areal keraton dimulai dari Alun-alun Kota. Untuk masuk ke dalam bangunan dan museum keraton, wisatawan mancanegara dikenai karcis seharga Rp 10.000,00 sedangkan wisatawan lokal hanya seharga Rp 6.000,00. Paling murah adalah harga karcis pelajar yaitu Rp 5.000,00. Harga karcis belum termasuk dengan fee untuk pemandu wisatanya jika ingin mendapatkan keterangan dan cerita historis mengenai keraton. 

Keraton akan ramai dikunjungi pada musim liburan sekolah atau pada hari libur. Hal ini dijelaskan oleh Ibu Ida, seseorang dari bagian penjualan karcis. “ Biasanya rombongan anak-anak SD atau TK, Mbak, yang sering datang. Biasanya pas hari libur. Orang Solo sendiri malah jarang yang datang ke keraton,” ungkapnya.  Memasuki bangunan keraton, para wisatawan akan disambut oleh patung PB X yang berdiri tinggi dan tegak. Setelah itu para wisatawan akan memasuki bangunan yang berlorong yang terkesan sejuk dan teduh.

Silsilah kerajaan dari masa Kerajaan Majapahit, hingga Kerajaan Mataram dan akhirnya terpecah menjadi Keraton Solo dan Yogyakarta bisa menjadi pilihan pertama untuk dilihat. Setelah itu pengunjung  bisa membagi perjalanannya menjadi dua bagian, di bagian museumnya dan bagian pelataran keraton atau rumah yang ditinggali oleh raja dan keturunannya. Untuk memasuki pelataran dalam, yang pengunjung haruslah melepaskan sandal. Bagi yang bersepatu boleh tetap memakainya. Pelataran dalam ini terdiri atas halaman yang berpasir, dan bangunan yang sering disebut sasana.

Di halaman berpasir ini ada berderet-deret pohon sawo kecik yang berjumlah 77 pohon yang membuat sejuk daerah ini. Pohon sawo kecik ini melambangkan kabecikan  yang berarti kebaikan, dan jumlah 77 yang dalam bahasa Jawa  pitu berarti  pitulungan  yang dalam bahasa Indonesia bearti pertolongan.  Salah satu bagian dari bangunan sasana adalah Sasana Bujana yang sering digunakan oleh raja untuk menjamu tamunya dengan sebuah jamuan makan. Di sasana inilah upacara-upacara adat seperti pernikahan putra raja, Sekatenan, dan Suro serta penobatan gelar kerajaan diselenggarakan.

Di bagian ini terlihat perpaduan tidak hanya dari arsitektur Jawa, namun terlihat juga gaya Eropa dan Cina yang bisa dilihat dari patung-patung wanita gaya Eropa dan pot-pot keramik dari Cina yang menghiasi di beberapa sudut dan bagiannya. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu kerajaan Jawa sudah menjalin kerjasama perdagangan dengan bangsa asing.  Bangunan yang tak kalah menarik dari sasana adalah bangunan tinggi yang  bernama Sangga Buwana. Menurut cerita, dari Sangga Buwana ini sang raja bisa melihat sampai ke daerah Laut Selatan, dan mengadakan komunikasi dengan Ratu Penguasa Pantai Selatan. Dan biasanya di tempat inilah Sang Raja bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul penguasa pantai selatan. Hanya rajalah yang boleh memasuki bangunan ini.  Bagian kedua dari perjalanan adalah bagian museum keraton.

Di museum ini tersimpan benda-benda peninggalan bersejarah dan benda-benda yang digunakan oleh orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari pada zaman dahulu. Ada wayang, ada replika batu dari candi, ada juga peralatan-peralatan untuk membawa srah-srahan atau hadiah-hadiah pada acara pernikahan Jawa khususnya keluarga raja. Ada juga perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh putri raja zaman dahulu. Tak kalah menariknya ada sebuah dandang raksasa atau tempat untuk menanak nasi yang sangat besar.

Dahulu kala dandang ini digunakan menanak nasi ketika raja mengadakan acara atau perjamuan besar.  Pengunjung harus berhati-hati ketika sudah sampai di bagian museum yang menyimpan koleksi kereta-kereta kuda. Karena di bagian itu ada seorang lelaki paruh baya bisu yang biasanya me nawarkan jasa untuk mengambilkan gambar para wisatawan, tapi nanti pengunjung diminta membayar Rp 10.000,00. Mas Ayok dan Mas Pandu wisatawan dari Karanganyar menuturkan pengalamannya, “kami digedak sepuluh ribu setelah tertipu untuk difotokan di depan kereta kuda, tau gitu tadi gak usah foto! Kalau tidak mbayar takut diapa-apain malahan nantinya mbak!” Namun jika pengunjung ditemani oleh pemandu wisata maka orang itu tidak akan berani meminta bayaran.

Salah satu koleksi yang menarik di museum ini adalah sebuah kepala raksasa yang berwarna merah yang dinamai Kyai Raja Mala. Pada zaman dahulu,Kyai Raja Mala ini sebagai hiasan di haluan kapal. Benda ini harus diberi sesaji dalam kurun waktu tertentu, jika tidak maka benda ini akan mengeluarkan bau yang tidak sedap. 
Seorang wisatawan asing dari Boston Amerika, Paul terlihat sangat terkagum setelah menjelajahi tiap sudut Keraton Kasunanan. “It’s awesome! The Javanese people have their own traditional palace with the magical atmo sphere here,” Dia tidak mengira kalau di sebuah negara seperti Indonesia ternyata ada istana lokal yang menjadi daya tarik wisatawan. Dan yang terus membuatnya berpikir dan heran adalah  bagaimana seorang raja bisa kuat memiliki 40 orang istri.  Bila anda mengunjungi keraton pada hari Sabtu, maka pada pukul 12.00- 13.00 anda akan bisa mendengarkan para abdi dalam keraton memainkan gamelan. (Faka Yudhistira/D0207055)

0 komentar:

Poskan Komentar